Virus Corona Disebut Mampu Bertahan di Udara, WHO Cemaskan Tenaga Medis

Virus Corona Disebut Mampu Bertahan di Udara, WHO Cemaskan Tenaga Medis

Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO tengah mempertimbangkan tindakan pencegahan virus corona di udara setelah sebuah studi menunjukkan virus tersebut mampu bertahan di udara atau menular melalui airborne, di kondisi tertentu.

Dr Maria Van Kerkhove, Kepala Unit Penyakit Zoonosis dari WHO menyebut virus corona yang menular melalui droplet atau tetesan air liur saat seseorang batuk atau bersin, khususnya dalam fasilitas medis seperti rumah sakit, akan menghasilkan aerosol dan partikel tersebut dapat mengindikasikan virus mampu bertahan sedikit lebih lama di udara.

"Sangat penting bagi petugas kesehatan untuk melakukan tindakan pencegahan tambahan ketika mereka merawat pasien," katanya dikutip dari CNBC.

Para pejabat kesehatan dunia mengatakan virus corona yang dibawa melalui tetesan air liur saat bersin dan batuk ini dapat tertinggal di benda-benda. Bahkan dapat tetap 'melayang' di udara, tergantung pada beberapa faktor seperti suhu dan kelembaban.

Beberapa penelitian lain, disebutkan oleh Dr Kerkhove, telah melihat sejumlah negara dengan kondisi lingkungan yang bisa membuat virus corona COVID-19 bisa bertahan lebih lama. WHO telah menggunakan informasi yang telah dihimpun tersebut untuk memastikan panduan yang sesuai, khususnya bagi tenaga kesehatan.

Robert Redfield, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC di Amerika Serikat, mengatakan bahwa pihaknya meneliti secara berkala dan mengevaluasi seberapa lama virus corona COVID-19 mampu bertahan terutama di permukaan.

"Pada tembaga dan baja, ini sangat khas dan bisa (bertahan) dua jam. Tapi harus saya katakan bahwa di permukaan lain seperti kardus atau plastik, masa tahannya lebih lama," tutur Redfield.