Bukti Baru Putin Bantu Trump dalam Pemilu

WASHINGTON Badan intelijen Amerika Serikat (AS), yang merupakan gabungan dari Central Intelligence Agency (CIA), Federal Bureau of Investigation (FBI), dan National Security Agency (NSA), memberikan laporan terbaru terkait kasus intervensi pemilu AS oleh Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin terbukti memerintahkan serangan siber untuk membantu kemenangan Donald Trump dengan mendiskreditkan Partai Demokrat.

Kami menilai, Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan serangan yang memengaruhi pemilihan presiden AS 2016. Kami melihat Putin dan Pemerintah Rusia memberikan preferensi yang jelas kepada Trump. Kami memiliki keyakinan yang tinggi dalam penilaian ini, tulis intelijen AS dalam laporannya, Jumat (6/1).

Tujuan intervensi Rusia disebutkan untuk melemahkan persepsi publik dalam proses demokrasi AS. Rusia juga ingin merendahkan citra Hillary Clinton hingga sulit baginya memenangkan kursi kepresidenan.

Keterlibatan Rusia seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya untuk memanipulasi sistem politik Amerika. Laporan itu juga mengungkapkan, badan intelijen militer Rusia, GRU, menggunakan perantara, seperti WikiLeaks, DCLeaks.com, dan Guccifer 2.0 untuk merilis surel yang telah diperoleh dari Komite Nasional Partai Demokrat (DNC).

Rilis dari surel tersebut membuat media menyebarkan kabar merugikan bagi Clinton, hingga kepala DNC harus mengundurkan diri. Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, mengatakan, dia tidak menerima surel DNC dari pihak negara, melalui pembantu Clinton, John Podesta.

Namun, Assange tidak menutup kemungkinan ia mendapat materi surel itu dari pihak ketiga. Ketika itu tampaknya Moskow melihat Clinton berpeluang memenangkan pemilu. Pengaruh serangan siber Rusia lebih fokus pada kemenangan Trump, ujar laporan.

Laporan tersebut juga menilai, serangan Putin didorong sebagian oleh kebencian pribadi terhadap Clinton. Kedutaan Besar Rusia di Washington belum menanggapi permintaan untuk berkomentar terkait hal ini.

Putin kemungkinan besar ingin mendiskreditkan Clinton karena ia secara terbuka telah menyalahkan Clinton sejak 2011, yang dianggap menghasut protes massa terhadap rezimnya pada akhir 2011 dan awal 2012, ungkap laporan.

Laporan adanya gangguan Rusia dalam pemilu AS telah membuat pergolakan di Washington. Tetapi, Kongres telah secara resmi mengesahkan suara Electoral College yang memenangkan Donald Trump dalam pemilu 2016, pada Jumat (6/1).

Wakil Presiden Joe Biden mengumumkan, Trump berhasil mengumpulkan 304 suara Electoral College dan mengalahkan pesaingnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Meski Trump memenangkan suara Electoral College, suara populer tetap dimenangkan oleh Clinton dengan selisih hampir tiga juta suara.

Sejumlah anggota Kongres menyatakan kekhawatiran akan peretasan yang dilakukan Rusia terhadap Partai Demokrat, yang dapat memengaruhi jumlah suara. Meski demikian, intelijen AS tidak menyimpulkan peretasan telah mengubah penghitungan suara.
Saya keberatan karena merasa khawatir dengan bukti campur tangan Rusia dalam pemilihan kami, kata Barbara Lee, wakil dari California.

Laporan intelijen AS itu, meski kurang membeberkan bukti, dapat menjadi dorongan bagi kongres untuk menindak Rusia lebih tegas. Sementara, Trump masih tetap membela legitimasi kemenangannya dan meremehkan laporan intelijen AS tersebut.

Rusia, Cina, dan negara-negara lain secara konsisten mencoba menerobos infrastruktur siber lembaga pemerintah, bisnis, dan organisasi kita, termasuk DNC, kata Trump. Menurutnya, hasil pemilu tidak dipengaruhi apa pun, melihat fakta tidak adanya gangguan terhadap pemungutan suara.

Pebisnis yang akan dilantik pada 20 Januari 2017 mendatang itu juga mengatakan, ia segera membentuk tim untuk mencegah serangan siber. Pembentukan akan dilakukan dalam waktu 90 hari setelah ia menjabat sebagai presiden.

Moskow dengan tegas menolak segala tuduhan Washington. Dalam komentarnya, Putin menyebut AS sebagai pecundang karena selalu mencari kambing hitam.

Hal terbaik adalah ketika peretas menggali informasi autentik yang menyebabkan kepala Komite Nasional Demokrat mengajukan pengunduran diri. Dengan demikian, peretas telah memunculkan kebenaran, ujar Putin, seperti dikutip dari kantor berita Rusia, Tass. rep: Fira Nursya'bani/reuters, ed: Setyanavidita Livikacansera

Source :
www.republika.co.id