Pelaku Serangan Bandara Terancam Hukuman Mati

FLORIDA — Pelaku penembakan Bandara Internasional Fort Lauderdale terancam hukuman mati, Sabtu (7/1). Jaksa telah menjatuhkan dakwaan kepada pelakum yaitu Esteban Santiago (26 tahun).

Dia didakwa tindak penembakan hingga menewaskan lima orang dan melukai enam orang. Dilansir dari BBC, tindak kekerasan di bandara internasional hingga menyebabkan kematian itu dituntut hukuman maksimal hukuman mati.

Dia juga dikenai dakwaan terkait penyalahgunaan senjata api. Tersangka yang saat ini sudah ditahan mengatakan kepada petugas bahwa dia merencanakan serangan tersebut. Santiago membeli tiket sekali jalan ke Fort Lauderdale. Otoritas masih belum mengetahui motif pelaku memilih sasarannya.

Namun, sejauh ini kemungkinan aksi terorisme dikesampingkan. "Hari ini dakwaan mewakili situasi dan merefleksikan komitmen federal, negara, dan penegakan hukum setempat untuk terus melindungi komunitas dan menghukum mereka yang menargetkan warga dan pengunjung," kata jaksa penuntut umum AS, Wifredo Ferrer.

Santiago dilaporkan menggunakan pistol semiotomatis yang telah secara resmi ia laporkan dalam penerbangan dari Alaska. Bandara Fort Lauderdale termasuk bandara yang mengizinkan penumpang maskapai membawa senjata dan amunisi selama perjalanan.

Senjata harus dimasukkan ke dalam tas yang disimpan di dalam bagasi sehingga penumpang bisa dinyatakan bebas saat check-in. Hal ini diduga jadi alasan Santiago memilih Bandara Fort Lauderdale. Pelaku memanfaatkan kelengahan petugas terhadap senjata api.

Masalah kejiwaan
Petugas juga menyelidiki masalah kejiwaan Santiago. Sebelumnya, tersangka dirujuk untuk pemeriksaan kesehatan oleh FBI. Biro Investigasi Federal dan polisi Anchorage mengatakan November lalu, Santiago datang ke kantor FBI di Alaska dalam keadaan tidak stabil.

Dia membawa banyak magasin, tapi meninggalkan pistolnya di mobil bersama seorang bayi baru lahir. Dalam evaluasi kesehatan mental berikutnya, Santiago mengatakan kepada FBI, dia mendengar suara-suara dan meyakini dia dikendalikan oleh badan intelijen AS.

Belum diketahui pistol yang ia gunakan untuk melakukan serangan merupakan senjata yang sama dengan yang ia bawa November lalu. Menurut Pentagon, Santiago adalah mantan Garda Nasional di Puerto Rico dan Alaska.

Dia bertugas di Irak sejak April 2010 sampai Februari 2011. Masa tugasnya berakhir pada Agustus 2016. Media AS melaporkan, dia pernah diskors dari Garda Nasional Alaska karena performa yang tidak memuaskan.

Masalah kesehatan mental Santiago juga diungkap oleh saudaranya, Brian Santiago. Brian mengatakan, Santiago menerima perawatan psikologis di Alaska. Santiago lahir di New Jersey dan pindah ke Puerto Rico ketika berusia dua tahun.

Bibi Santiago, Maria Luisa Ruiz, mengatakan pada situs NorthJersey.com bahwa Santiago kehilangan akal sehatnya saat di Irak. Saat menjadi ayah atas anak laki-laki pada September lalu, ia juga seperti gila. "Sebulan lalu, sepertinya dia kehilangan akal sehat. Ia mengatakan, ia melihat hal-hal aneh," kata Ruiz.

Pada Sabtu, daftar resmi korban penembakan belum dirilis otoritas. Namun, sejumlah keluarga dan kerabat telah mengonfirmasi kehilangan mereka. Salah satunya adalah Olga Woltering, seorang penduduk Georgia asli dari Ipswich di Inggris bagian timur.

Ia adalah seorang yang taat beragama, ramah, menyenangkan, penuh kasih sayang, dan sangat berkomitmen. Korban lain adalah Terry Andres, seorang relawan petugas kebakaran, Michael Oehme seorang pengusaha, istrinya termasuk korban luka.

Korban lain adalah nenek berusia 70 tahun, Shirley Timmons. Wile FM melaporkan, suaminya ditembak di kepala dan saat ini dalam kondisi kritis. Sidang pertama Santiago akan digelar pada Senin (9/1).

Insiden ini kembali meningkatkan kewaspadaan soal keamanan bandara. Termasuk soal izin penumpang membawa senjata api. Transportation Security Administration yang bertanggung jawab atas keamanan bandara AS-lah yang mengizinkan penumpang bepergian dengan senjata api tanpa amunisi di bagasi.

Senator Chris Murphy, seorang Demokrat dari Connecticut, mencela kebijakan pemerintah yang tidak mengambil aksi untuk memperketat hukum senjata. "Pengecut politik adalah kaki tangan dari setiap penembak massal," kata dia. rep: Lida Puspaningtyas, ed: Ichsan Emrald Alamsyah

Source :
www.republika.co.id